Sabtu, 28 September 2019

Tentang Rasa


Yang mau aku bahas disini ada beberapa soal rasa, rasa ini lebih kepada kaum perempuan tapi bisa juga terjadi pada laki-laki, yes pengalaman mungkin sebagian besarnya.

Senja Itera
Tentang rasa “merasa paling benar”

Rasa ini datang saat orang lain melakukan sesuatu apapun itu, bisa tingkah laku, bicara ataupun sebuah keputusan. Sebagian besar dari kita pasti pernah memprotes tindakan orang lain dengan sengaja atau tanpa sengaja hanya dalam hati atau lebih parahnya langsung diucapkan tanpa pikir panjang, saat yang kita pikir bahwa yang dilakukan orang lain itu salah. 

Example:
  Ada salah satu teman kita yang selalu duduk didepan saat kuliah, kita sebagai orang lain yang menginginkan duduk didepan seperti dia pasti berfikir bahwa kenapa dia selalu duduk didepan, tidak pernah duduk dibelakang, padahal banyak yang ingin duduk didepan atau mungkin kita pasti bilang “gantian geh, didepan terus!” atau “ambisius banget sih tu orang, enggak pernah mau duduk dibelakang” dll yang menyudutkan dia, Atau contoh yang lain mungkin saat melihat teman kita menggunakan jilbab dengan model yang aneh menurut kita, atau saat salah seorang teman kita tidak bisa salah satu mata kuliah yang menurut kita mudah, atau saat teman kita sangat sulit ditagih uang kas. 

Yang perlu kita garis bawahi adalah pertama kita tidak tahu apa alasan dia melakukan hal-hal yang menurut kita salah tersebut, yang kedua kita tidak boleh menjugde dia bersalah karena kita tidak tahu apa alasan dibalik tingkah laku dia.

Mungkin dia selalu duduk didepan karena dia miopi* (salah satu gangguan pada mata) sehingga tidak dapat melihat jarak jauh dan bahkan duduk didepan pun dia belum bisa melihat dengan jelas, saat teman kita menggunakan kerudung dengan model yang aneh, mungkin saja kerudung tersebut adalah pemberian orang tuanya yang dengan susah payah ibunya beli untuk dia, mungkin saja dia sendiri bahkan malu menggunakan, namun kita menambahnya dengan mencaci dan mencibirnya, saat teman kita tidak bisa salah satu mata kuliah yang mudah, mungkin saja dia bahkan sudah belajar lebih keras dari pada kita, namun tetap tidak paham, dan teman kita yang benar-benar tidak memiliki uang untuk membayar kas atau bahkan untuk dia makan esok hari. 

Setiap apapun yang dilakukan seseorang pasti sudah diperhitungkan dengan baik yang pasti “baik menurut dia” disinilah muncul persepsi bahwa kita merasa benar, saat orang lain melakukan sesuatu karena menurut dia benar namun menurut kita salah disitulah terjadi kesalahfahaman yang menimbulkan saling menyakiti satu sama lain. 

Saat inipun saya sedang tidak melarang seseorang untuk berfikir apapun tentang orang lain karena saya tahu itu adalah hak orang lain,saya hanya ingin menggiring pikiran teman-teman yang membaca untuk tidak “selalu” berfikir buruk pada orang lain, ambil sisi positif yang ada pada teman kita yang berbuat tidak baik ‘menurut kita’, pada tulisan saya sebelumnya saya menuliskan bahwa jangan terlalu banyak menuntut diri kita untuk melakukan yang terbaik dalam setiap langkah ( misal kita harus selalu rajin, berpenampilan sempurna, dll ) karena diri kita punya rasa lelah, tapi berfikir positif adalah salah satu cara untuk mempermudah hidup kita dan pikiran kita  agar kita tidak perlu membuang banyak tenaga hanya untuk hal tidak penting yang artinya bukan berarti kita juga tidak peduli dengan orang lain.

Tulisan ini adalah sebuah opini tentang sebuah rasa dan saya jabarkan berdasarkan logika saya, saya juga sedang belajar memperbaiki pikiran-pikiran jelek saya terhadap orang lain, bukan berarti saya tidak pernah melakukan itu bukan juga artinya saya sudah tak lagi melakukan itu, namun saya menuliskan hal ini karena saya merasa bahwa hal itu tidak benar.

Akan ada beberapa tentang rasa lainnya yang akan saya post dilain waktu semoga allah memberi waktu pada saya, aamiin. Stay tune yaa, terimakasih sudah membaca. Semoga bermanfaat dan tuliskan rasa anda, dibawah kolom komentar.

ket:
*miopi adalah kondisi penglihatan di mana tidak mampu melihat benda dalam jarak jauh, tapi mampu melihat benda terdekat dengan jelas.

referensi 

Kamis, 12 September 2019

Arti “dia” untuk ku



Berawal dari ...

Mimpi ku

Aku sangat menginginkan dia bahkan saat aku tak tahu bagaimana cara ku mendapatkannya. Tapi aku terus berharap dia akan aku dapatkan, harapanku yang menurutku jauh itupun tak mampu menyurutkan semangatku untuk mendapatkannya. Setiap malam ku selalu berdoa agar dia menjadi bagian dari hidupku.

Bukan hanya aku, orang lain pun meragukanku mampu mendapatkannya.
Hingga suatu saat anganku mendapatkannya pun terwujud.

Aku mampu menjadikannya milikku. Yaaa... aku mampu. Dengan cara sederhana yang tak pernah ku duga, dengan semua kemudahan yang Allah jadikan sebuah keajaiban untukku.

Saat itu bahagiaku luar biasa, dan aku berkata “aku yakin padamu ya Allah, aku yakin kau mendengarkan semua do’a ku, terimakasih ya Allah, nikmat itu kau percayakan padaku”

Bahkan saat dia sudah ku dapatkan ada saja yang mencibirku, sudahlah. Tapi terimakasih telah berkata yang membuatku jauh lebih semangat dari sebelumnya.

Selanjutnya dia adalah bagian dari hidupku, karena dia aku banyak kehilangan sesuatu dan mendapatkan banyak hal baru saat yang bersamaan. Aku meninggalkan keluargaku yang selalu ada dihidupku dan beralih pada kehidupan baru yang sama sekali tak ku kenal, yang ku tahu inilah yang selama ini aku cari.

Hari pertamaku bersamanya  aku sangat bahagia, inikah rasanya saat keinginan ku terwujud.

Hari demi hari ku lewati bersamanya dan aku mulai terbiasa dengan siklus hidupku karenanya. Siklus emosi dan hidupku banyak berubah, orang-orang sekelilingku pun banyak berbeda tak lagi sama seperti sebelumnya, tapi tak apa, aku yakin aku mampu karena ini inginku.

Waktu terus berlalu hingga disaat itu, saat itu aku terpuruk, aku terpuruk, juga karenanya, ya karena dia. Aku tahu hidup memang tak selalu indah seperti yang kita inginkan, saat itu aku menangis sejadi-jadinya pikirku aku harus menangis agar tak ada lagi beban dikemudian hari yang akan membuatku jauh lebih sakit.
Aku mencurahkan sakitku dengan menulis pada buku, entah buku apa itu, saat itu yang terpenting untukku adalah menulis, memberi semangat pada diri sendiri meyakinkan aku mampu melewatinya.

Kejadian  itu sudah berlalu, saat ini, saat aku tahu rasa itu akan datang kembali, aku biarkan diriku tenang dan menyerahkan semuanya pada Allah, karena aku tahu ini adalah mauku.

Saat ini mungkin aku sudah mulai dewasa, mampu membersihkan toxic yang ada pada pikiran ku dengan memberikan toxic positive yang mampu menetralkan pikiranku. But tak selalu kita harus membuang pikiran-pikiran yang jelek, seperti lelah, ingin menyerah, dll karena kita manusia pasti punya rasa itu, hanya saja kita perlu mengaturnya agar tidak dengan porsi yang berlebih.

Setelah pikiran ku mulai mendewasa atau lebih tepatnya aku belajar mendewasakan pikiran ku, aku mulai mengambil sisi positif yang terjadi entah itu lelah karenanya, ingin menyerah, dipaksa totalitas, dipaksa bertanggung jawab, dipaksa untuk selalu melakukan yang terbaik. Aku mengambilnya sebagai bagian dari hidupku yang pada dasarnya aku sendirilah yang menginginkannya.

 Ya, oke, dengan semangat membara aku ucapkan, terimakasih telah datang dihidupku sebagai keajaiban.

Ku harap aku dapat melakukan semuanya dengan baik, untuknya aku ingin menjadikan segala rasa ini sebagai nikmat yang mungkin tak bisa dirasakan oleh orang lain.



Ya .. dia, dia adalah bangku perkuliahan jenjang S1ku. Terus ajari aku caranya berfikir dewasa, terus ajari aku untuk bertanggung jawab, terus ajari aku tepat waktu dan jangan lelah ingat kan padaku untuk mensyukuri kehadiranmu dihidupku sebagai anugrah dari Allah. 

Terimakasih telah membaca :)




Selasa, 03 September 2019

Mahasiswa "Kupu - Kupu"




Semua orang juga tau mahasiswa kupu – kupu itu cuma kuliah – pulang, kuliah – pulang kayak namanya, banyak yang bilang mahasiswa kupu – kupu itu enggak punya kerjaan, tidak punya kreasi, inovasi, datar banget hidupnya, mungkin “semua” orang juga enggak bakal suka kalo dibilang mahasiswa kupu – kupu karena banyak orang menjudge mereka sesuatu yang buruk. Memang sih, mahasiswa itu seharusnya lebih banyak kreasi, inovasi, demi untuk memajukan negara “idealnya” atau setidaknya yaa, mengupgrade dirilah supaya enggak gitu – gitu aja, bisa nambah temen, mengasah public speaking juga, deket dengan dosen juga mungkin salah satunya, dll. 

Setiap mahasiswa yang hanya menjadi kupu – kupu di kampusnya pasti punya alasan tersendiri untuk tidak terlalu banyak kegiatan atau mengikuti banyak organisasi. Mungkin mereka kurang nyaman dengan lingkungan, mungkin menurut mereka lebih baik kerja sambilan daripada mengikuti banyak organisasi dan kegiatan yang notabennya menghabiskan banyak uang. Walaupun aku bukan mahasiswa yang memiliki segudang jabatan dibanyak organisasi, aku juga mahasiswa “kupu – kupu”. Bukan karena enggak mau disebut mahasiswa kupu ya, hehehe. Organisasi ada lah, Cuma dikit, tapi yaa.. gitu kayaknya juga sering di kosan. Aku juga mengisi waktu kosongku dengan ngasisten, dan kegiatan bermanfaat lainnya. Tapi tetep aja ngerasa aku tu mahasiswa “kupu –kupu “ karena ngerasa enggak sesibuk yang lain.
 
Menjadi mahasiswa kupu – kupu mungkin akan terasa berat bagi sebagian orang karena doktrin yang mereka rasakan dari sekeliling teman kampusnya. Dulu, saya juga mendapat doktrin tersebut, bukan doktrin yang buruk namun menggiring pemikiran orang untuk tidak menjadi mahasiswa “kupu – kupu “  karena berbagai hal yang dianggap kurang baik atau keterbelakang.
Aku hanya ingin beropini bahwa tidak benar jika mahasiswa yang banyak memegang jabatan diberbagai organisasi sudah pasti lebih baik dari temen – temen mahasiswa yang hanya kuliah – pulang. 2 hal ini adalah pilihan untuk setiap mahasiswa dimanapun, karena setiap mahasiswa tahu porsinya dalam menentukan waktu yang bermanfaat bagi dirinya, mungkin teman – teman yang tidak memiliki organisasi memiliki banyak pencapaian lain yang ingin mereka wujudkan, menjalankan bisnis, mengurus keluarga, membantu orang tua, mencari uang tambahan, menghafal quran, membuat buku, dan pekerjaan lain yang tidak terlihat oleh teman – teman dikampus. Jadi stop berfikiran bahwa mahasiswa yang tidak mengikuti banyak kegiatan dan organisasi itu buruk. Daaaaan .. untuk teman – teman yang bisa dikatakan sebagai mahasiwa kupu – kupu jangan biarkan diri kalian hanya sebagai seseorang yang tidak pernah maju, majulah, kita anak “kuliahan” usahakan punya hasil setelah keluar dari kampus tercinta. Bagaimanapun cara kalian, aku yakin hanya kalian yang mengetahui potensi kalian masing – masing. (ini nasihat buat diri sendiri sih, wkwk) buat temen – temen yang punya banyak jabatan, semoga selalu istiqomah, amanah dan bertanggung jawab, raihlah kemajuan kalian dengan cara kalian. 

Aku hanya sedang belajar menulis, yuk bantu aku dengan cara komen kalau – kalau banyak yang perlu di benahi, terimakasih semua, semoga bermanfaat.