Berawal
dari ...
Mimpi ku
Aku sangat
menginginkan dia bahkan saat aku tak tahu bagaimana cara ku mendapatkannya. Tapi
aku terus berharap dia akan aku dapatkan, harapanku yang menurutku jauh itupun
tak mampu menyurutkan semangatku untuk mendapatkannya. Setiap malam ku selalu
berdoa agar dia menjadi bagian dari hidupku.
Bukan hanya
aku, orang lain pun meragukanku mampu mendapatkannya.
Hingga
suatu saat anganku mendapatkannya pun terwujud.
Aku mampu
menjadikannya milikku. Yaaa... aku mampu. Dengan cara sederhana yang tak pernah
ku duga, dengan semua kemudahan yang Allah jadikan sebuah keajaiban untukku.
Saat itu
bahagiaku luar biasa, dan aku berkata “aku yakin padamu ya Allah, aku yakin kau
mendengarkan semua do’a ku, terimakasih ya Allah, nikmat itu kau percayakan
padaku”
Bahkan
saat dia sudah ku dapatkan ada saja yang mencibirku, sudahlah. Tapi terimakasih
telah berkata yang membuatku jauh lebih semangat dari sebelumnya.
Selanjutnya
dia adalah bagian dari hidupku, karena dia aku banyak kehilangan sesuatu dan
mendapatkan banyak hal baru saat yang bersamaan. Aku meninggalkan keluargaku
yang selalu ada dihidupku dan beralih pada kehidupan baru yang sama sekali tak
ku kenal, yang ku tahu inilah yang selama ini aku cari.
Hari pertamaku
bersamanya aku sangat bahagia, inikah
rasanya saat keinginan ku terwujud.
Hari demi
hari ku lewati bersamanya dan aku mulai terbiasa dengan siklus hidupku karenanya.
Siklus emosi dan hidupku banyak berubah, orang-orang sekelilingku pun banyak
berbeda tak lagi sama seperti sebelumnya, tapi tak apa, aku yakin aku mampu
karena ini inginku.
Waktu terus
berlalu hingga disaat itu, saat itu aku terpuruk, aku terpuruk, juga karenanya,
ya karena dia. Aku tahu hidup memang tak selalu indah seperti yang kita
inginkan, saat itu aku menangis sejadi-jadinya pikirku aku harus menangis agar
tak ada lagi beban dikemudian hari yang akan membuatku jauh lebih sakit.
Aku mencurahkan
sakitku dengan menulis pada buku, entah buku apa itu, saat itu yang terpenting
untukku adalah menulis, memberi semangat pada diri sendiri meyakinkan aku mampu
melewatinya.
Kejadian
itu sudah berlalu, saat ini, saat aku
tahu rasa itu akan datang kembali, aku biarkan diriku tenang dan menyerahkan
semuanya pada Allah, karena aku tahu ini adalah mauku.
Saat ini
mungkin aku sudah mulai dewasa, mampu membersihkan toxic yang ada pada pikiran ku dengan memberikan toxic positive yang mampu menetralkan
pikiranku. But tak selalu kita harus
membuang pikiran-pikiran yang jelek, seperti lelah, ingin menyerah, dll karena
kita manusia pasti punya rasa itu, hanya saja kita perlu mengaturnya agar tidak
dengan porsi yang berlebih.
Setelah
pikiran ku mulai mendewasa atau lebih tepatnya aku belajar mendewasakan pikiran
ku, aku mulai mengambil sisi positif yang terjadi entah itu lelah karenanya,
ingin menyerah, dipaksa totalitas, dipaksa bertanggung jawab, dipaksa untuk
selalu melakukan yang terbaik. Aku mengambilnya sebagai bagian dari hidupku yang
pada dasarnya aku sendirilah yang menginginkannya.
Ya,
oke, dengan semangat membara aku ucapkan, terimakasih telah datang dihidupku
sebagai keajaiban.
Ku harap
aku dapat melakukan semuanya dengan baik, untuknya aku ingin menjadikan segala
rasa ini sebagai nikmat yang mungkin tak bisa dirasakan oleh orang lain.
![]() |
Ya ..
dia, dia adalah bangku perkuliahan jenjang S1ku. Terus ajari aku caranya
berfikir dewasa, terus ajari aku untuk bertanggung jawab, terus ajari aku tepat
waktu dan jangan lelah ingat kan padaku untuk mensyukuri kehadiranmu dihidupku
sebagai anugrah dari Allah.
Terimakasih telah membaca :)

πππͺ
BalasHapusTerimakasih kak :)
BalasHapusThe best
BalasHapussemoga bermanfaat kak, terimakash sudah berkunjung.:)
BalasHapus