Kamis, 12 September 2019

Arti “dia” untuk ku



Berawal dari ...

Mimpi ku

Aku sangat menginginkan dia bahkan saat aku tak tahu bagaimana cara ku mendapatkannya. Tapi aku terus berharap dia akan aku dapatkan, harapanku yang menurutku jauh itupun tak mampu menyurutkan semangatku untuk mendapatkannya. Setiap malam ku selalu berdoa agar dia menjadi bagian dari hidupku.

Bukan hanya aku, orang lain pun meragukanku mampu mendapatkannya.
Hingga suatu saat anganku mendapatkannya pun terwujud.

Aku mampu menjadikannya milikku. Yaaa... aku mampu. Dengan cara sederhana yang tak pernah ku duga, dengan semua kemudahan yang Allah jadikan sebuah keajaiban untukku.

Saat itu bahagiaku luar biasa, dan aku berkata “aku yakin padamu ya Allah, aku yakin kau mendengarkan semua do’a ku, terimakasih ya Allah, nikmat itu kau percayakan padaku”

Bahkan saat dia sudah ku dapatkan ada saja yang mencibirku, sudahlah. Tapi terimakasih telah berkata yang membuatku jauh lebih semangat dari sebelumnya.

Selanjutnya dia adalah bagian dari hidupku, karena dia aku banyak kehilangan sesuatu dan mendapatkan banyak hal baru saat yang bersamaan. Aku meninggalkan keluargaku yang selalu ada dihidupku dan beralih pada kehidupan baru yang sama sekali tak ku kenal, yang ku tahu inilah yang selama ini aku cari.

Hari pertamaku bersamanya  aku sangat bahagia, inikah rasanya saat keinginan ku terwujud.

Hari demi hari ku lewati bersamanya dan aku mulai terbiasa dengan siklus hidupku karenanya. Siklus emosi dan hidupku banyak berubah, orang-orang sekelilingku pun banyak berbeda tak lagi sama seperti sebelumnya, tapi tak apa, aku yakin aku mampu karena ini inginku.

Waktu terus berlalu hingga disaat itu, saat itu aku terpuruk, aku terpuruk, juga karenanya, ya karena dia. Aku tahu hidup memang tak selalu indah seperti yang kita inginkan, saat itu aku menangis sejadi-jadinya pikirku aku harus menangis agar tak ada lagi beban dikemudian hari yang akan membuatku jauh lebih sakit.
Aku mencurahkan sakitku dengan menulis pada buku, entah buku apa itu, saat itu yang terpenting untukku adalah menulis, memberi semangat pada diri sendiri meyakinkan aku mampu melewatinya.

Kejadian  itu sudah berlalu, saat ini, saat aku tahu rasa itu akan datang kembali, aku biarkan diriku tenang dan menyerahkan semuanya pada Allah, karena aku tahu ini adalah mauku.

Saat ini mungkin aku sudah mulai dewasa, mampu membersihkan toxic yang ada pada pikiran ku dengan memberikan toxic positive yang mampu menetralkan pikiranku. But tak selalu kita harus membuang pikiran-pikiran yang jelek, seperti lelah, ingin menyerah, dll karena kita manusia pasti punya rasa itu, hanya saja kita perlu mengaturnya agar tidak dengan porsi yang berlebih.

Setelah pikiran ku mulai mendewasa atau lebih tepatnya aku belajar mendewasakan pikiran ku, aku mulai mengambil sisi positif yang terjadi entah itu lelah karenanya, ingin menyerah, dipaksa totalitas, dipaksa bertanggung jawab, dipaksa untuk selalu melakukan yang terbaik. Aku mengambilnya sebagai bagian dari hidupku yang pada dasarnya aku sendirilah yang menginginkannya.

 Ya, oke, dengan semangat membara aku ucapkan, terimakasih telah datang dihidupku sebagai keajaiban.

Ku harap aku dapat melakukan semuanya dengan baik, untuknya aku ingin menjadikan segala rasa ini sebagai nikmat yang mungkin tak bisa dirasakan oleh orang lain.



Ya .. dia, dia adalah bangku perkuliahan jenjang S1ku. Terus ajari aku caranya berfikir dewasa, terus ajari aku untuk bertanggung jawab, terus ajari aku tepat waktu dan jangan lelah ingat kan padaku untuk mensyukuri kehadiranmu dihidupku sebagai anugrah dari Allah. 

Terimakasih telah membaca :)




4 komentar: